Tidak berlebihan kiranya kita menyebut tawuran sebagai
implikasi budaya. Adalah wajar, perbedaan dalam konteks apapun menjurus pada
perselisihan. Ironisnya, sejarah mencatat bahwa kekerasan merupakan cara
terpopuler dalam menyikapi perselisihan. Sadar maupun tidak, cara ini
diwariskan dari generasi ke generasi. Begitu membudaya dalam segala tingkat
peradaban manusia.
Rasa dengki mendorong anak Adam bernama Qabil membunuh
saudara kandungnya. Di sini tersurat bahwa kekerasan diwariskan bahkan sejak
peradaban pertama manusia. Setelah kejadian tersebut, tak terhitung jumlah
kekerasan terekam dalam sejarah dunia. Perang demi perang telah kita saksikan.
Entah itu antar negara, suku bangsa, agama, hingga antar sekolah seperti yang
tengah menjadi buah bibir belakangan ini. Di tanah air kita menyebutnya tawuran.
Bangsa ini menyimpan banyak sekali potensi konflik
sejenis. Sebut saja supporter Persib Bandung, Viking tak pernah mau
berdamai dengan seterunya, Jakmania. Kedua kubu tak lagi punya alasan untuk
saling menyerang, kecuali dendam. Suburlah kebencian satu sama lain. Sebuah serangan
terhadap satu pihak menimbulkan dendam di pihak korban. Serangan balasan pun
diluncurkan atas nama dendam. Tak ayal dendam demi dendam lahir di antara
mereka.
Kasus-kasus tawuran pelajar yang marak dibicarakan media
pun terjadi atas dasar dendam semata. Pangkal konfliknya mungkin telah lama
terlupa. Namun begitulah budaya, banyak hal dipelihara tanpa mengindahkan latar
belakang historis. Lestarilah kebiasaan, menjadi adat meski mungkin menyalahi
norma.
Dilihat dari sisi kemanusiaan, semua kasus ini jelas
merupakan tragedi. Peristiwa kemarin tak hanya menimbulkan luka dan korban
jiwa, ada ketentraman warga terganggu di sana. Mencabik sendi-sendi hak asasi
manusia, mengkhianati Pancasila. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
Selama ini kita selalu bicara soal hukum, pasal-pasal,
hingga vonis hukuman. Para pelaku tawuran dikenakan sanksi pidana. Nyatanya hukum
tidak juga menimbulkan efek jera. Jauh lebih banyak konflik tak tersentuh
hukum. Seperti tawuran antar geng motor yang terjadi di Cikampek, Jawa Barat
setiap Minggu dini hari. Wajib ada upaya preventif dalam menyelesaikan perkara ini.
Seperti halnya mencegah konflik, mencegah tawuran memang
tidak mudah. Akar masalahnya sangat manusiawi, dendam saja. Dendam satu orang
mampu memprovokasi ribuan lainnya. Tetapi mustahil tak ada celah solusi di
sana. Bukankah Indonesia adalah bangsa pemaaf? Ratusan tahun dijajah bangsa
lain, toh kita memaafkannya. Seyogyanya kita lebih bisa memaafkan seteru yang
notabene saudara sendiri, sebangsa dan senegara. Apalah artinya melampiaskan
dendam dibanding persatuan Indonesia.
Di sisi lain, masyarakat harus dididik kembali soal ini.
Harus dilakukan re-orientasi, agar bakat bersatu kita tersalurkan pada objek
yang tepat. Guna membela hak rakyat, bangsa, negara, serta pembelaan terhadap
kebenaran. Bukan menyatukan kelompok atau suku lalu memporakporandakan sendi-sendi
perdamaian. Mediasi memang sudah banyak diupayakan. Namun sekali lagi, pihak
yang bartikai terlanjur terendam dendam. Kelompok Viking misalnya, dalam sebuah
pertandingan, dengan lantang mereka mengibarkan spanduk menolak berdamai dengan
seterunya, Jakmania.
Paradigma masyarakat perlu dibenahi, terutama bagi mereka
yang bertikai. Karena paradigma yang salah selalu menimbulkan tindakan yang
salah. Tindakan yang salah akan kembali melahirkan perspektif yang salah. Begitu
seterusnya, membudaya.
Yusuf Arif Maskuri