10/09/2012

Tawuran: Tragedi Kemanusiaan yang Membudaya



            Tidak berlebihan kiranya kita menyebut tawuran sebagai implikasi budaya. Adalah wajar, perbedaan dalam konteks apapun menjurus pada perselisihan. Ironisnya, sejarah mencatat bahwa kekerasan merupakan cara terpopuler dalam menyikapi perselisihan. Sadar maupun tidak, cara ini diwariskan dari generasi ke generasi. Begitu membudaya dalam segala tingkat peradaban manusia.
            Rasa dengki mendorong anak Adam bernama Qabil membunuh saudara kandungnya. Di sini tersurat bahwa kekerasan diwariskan bahkan sejak peradaban pertama manusia. Setelah kejadian tersebut, tak terhitung jumlah kekerasan terekam dalam sejarah dunia. Perang demi perang telah kita saksikan. Entah itu antar negara, suku bangsa, agama, hingga antar sekolah seperti yang tengah menjadi buah bibir belakangan ini. Di tanah air kita menyebutnya tawuran.
            Bangsa ini menyimpan banyak sekali potensi konflik sejenis. Sebut saja supporter Persib Bandung, Viking tak pernah mau berdamai dengan seterunya, Jakmania. Kedua kubu tak lagi punya alasan untuk saling menyerang, kecuali dendam. Suburlah kebencian satu sama lain. Sebuah serangan terhadap satu pihak menimbulkan dendam di pihak korban. Serangan balasan pun diluncurkan atas nama dendam. Tak ayal dendam demi dendam lahir di antara mereka.
            Kasus-kasus tawuran pelajar yang marak dibicarakan media pun terjadi atas dasar dendam semata. Pangkal konfliknya mungkin telah lama terlupa. Namun begitulah budaya, banyak hal dipelihara tanpa mengindahkan latar belakang historis. Lestarilah kebiasaan, menjadi adat meski mungkin menyalahi norma.
            Dilihat dari sisi kemanusiaan, semua kasus ini jelas merupakan tragedi. Peristiwa kemarin tak hanya menimbulkan luka dan korban jiwa, ada ketentraman warga terganggu di sana. Mencabik sendi-sendi hak asasi manusia, mengkhianati Pancasila. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
            Selama ini kita selalu bicara soal hukum, pasal-pasal, hingga vonis hukuman. Para pelaku tawuran dikenakan sanksi pidana. Nyatanya hukum tidak juga menimbulkan efek jera. Jauh lebih banyak konflik tak tersentuh hukum. Seperti tawuran antar geng motor yang terjadi di Cikampek, Jawa Barat setiap Minggu dini hari. Wajib ada upaya preventif dalam menyelesaikan perkara ini.
            Seperti halnya mencegah konflik, mencegah tawuran memang tidak mudah. Akar masalahnya sangat manusiawi, dendam saja. Dendam satu orang mampu memprovokasi ribuan lainnya. Tetapi mustahil tak ada celah solusi di sana. Bukankah Indonesia adalah bangsa pemaaf? Ratusan tahun dijajah bangsa lain, toh kita memaafkannya. Seyogyanya kita lebih bisa memaafkan seteru yang notabene saudara sendiri, sebangsa dan senegara. Apalah artinya melampiaskan dendam dibanding persatuan Indonesia.
            Di sisi lain, masyarakat harus dididik kembali soal ini. Harus dilakukan re-orientasi, agar bakat bersatu kita tersalurkan pada objek yang tepat. Guna membela hak rakyat, bangsa, negara, serta pembelaan terhadap kebenaran. Bukan menyatukan kelompok atau suku lalu memporakporandakan sendi-sendi perdamaian. Mediasi memang sudah banyak diupayakan. Namun sekali lagi, pihak yang bartikai terlanjur terendam dendam. Kelompok Viking misalnya, dalam sebuah pertandingan, dengan lantang mereka mengibarkan spanduk menolak berdamai dengan seterunya, Jakmania.
            Paradigma masyarakat perlu dibenahi, terutama bagi mereka yang bertikai. Karena paradigma yang salah selalu menimbulkan tindakan yang salah. Tindakan yang salah akan kembali melahirkan perspektif yang salah. Begitu seterusnya, membudaya.

Yusuf Arif Maskuri
[ Read More.. ]
[ Read More.. ]
Read More..
Read More..

6/11/2012

tentang hidup

     Hidup adalah ketika masih ada nyawa yang mengisi tubuh kita. Ya, secara harfiah, itulah hidup. Hewan, tumbuhan, mikroorganisme, dan kita, manusia, secara harfiah adalah makhluk hidup. Anak SD juga tau. Namun apakah layak, kita yang diciptakan sedemikian sempurna dengan kemampuan berpikir dan hati nurani, hanya hidup secara harfiah? Survive tanpa makna.
   
    Lalu apa bedanya kita dengan hewan yang memang tidak berpikir? Jika hidup kita hanya dihabiskan dengan makan, having sex, tidur, bernafas, tanpa menghasilkan apa-apa. Banyak manusia, mungkin termasuk kita, yang asal bertahan hidup saja. Yang penting bisa makan, "sing penting urip". Mereka, atau mungkin kita, tidak sadar bahwa bukan untuk itu manusia diciptakan.
   
    Menurut kitab suci, manusia diciptakan untuk menjadi khalifah/pemimpin di bumi. Logis. Memang hanya desain manusia yang memungkinkan untuk itu. Seorang atheis pun seharusnya menyadari kelebihan pada desain dirinya. Kemampuan berpikir dan emosi, untuk apa kita punya semua itu bila hidup kita hanya seperti hyena? Orang yang berpikir, akan berusaha berbuat lebih dari sekedar bertahan hidup. Mengisi biografi hidupnya dengan hal-hal bermakna.
     
    Coba lirik sejenak biografi Anda, seperti apakah adanya? Bila tidak ada satupun hal istimewa dalam biografi Anda, marilah kita mulai untuk membuat biografi hebat yang dapat membuat kita bangga. Agar ada cerita menarik untuk anak cucu kita. Mulai detik ini, jadilah manusia seutuhnya. Gunakan semua aplikasi yang sudah terinstal dalam tubuh untuk hidup sesuai fungsi manusia. Ibadah, bersosialisasi hingga menjaga bumi. Karna hal apapun yang tidak berfungsi, sama dengan mati. 

     
     
[ Read More.. ]
[ Read More.. ]
Read More..
Read More..